Langsung ke konten utama

TERIMA KASIH LEGENDA




Nama itu berulang kali disebut, sayup-sayup namanya kian bergema ketika ia menggiring bola, terlebih ketika sang kulit bundar melambung ke udara yang dituju pasti kepalanya, seketika ia akan mengeluarkan sundulan maut andalannya, hingga lawan pun hanya terpana begitu melihatnya. Semua itu hanya ada pada satu nama, Bambang Pamungkas.

Nama yang begitu melekat dikepala, bahkan dihati setiap pecinta sepak bola Indonesia. Selalu ada kesan tersendiri ketika mendengar namanya, membawa kenangan pada suatu masa dimana ada mimpi-mimpi besar disana. Karena begitulah jiwa seorang legenda.

Bambang Pamungkas, satu nama dan satu idola dalam sepak bola Indonesia. Siapapun akan setuju mengapa banyak anak Indonesia bercita-cita menjadi pesepak bola, satu alasan terbesar pasti karenanya.

Entah apa yang dimiliki, dia begitu dicinta dan begitu menginspirasi siapapun, baik tua maupun muda ketika melihatnya selalu ada hasrat untuk segera turun kelapangan dan bermain bola. Meniru apa yang dilakukannya, berlari, menendang, menyundul bahkan selebrasi mencetak golnya, selalu dikenang dan tak pernah lupa dikepala.

Bambang Pamungkas memulai perjalanan karir sepak bolanya dari usia dini. Ketika berusia delapan tahun ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Hobby Sepak Bola Getas di Kab. Semarang Jawa Tengah. Setahun kemudia ia pindah ke SSB Ungaran selama lima tahun.

Pada 1994 Bambang Pamungkas masuk ke tim Persikas Kab. Semarang bersama kakaknya yaitu Tri Agus Prasetijo dalam kompetisi PSSI divisi 2B regional Jawa Tengah. Dua tahun setelahnya ia masuk Diklat Salatiga yang sebelumya pernah gagal masuk dikarenakan tinggi badan tidak mencukupi.

Setelah masuk Diklat Salatiga justru disini bakatnya kian terasah dan bakat seoarang bintang mulai tercium klub-klub besar Indonesia kala itu. Persija Jakarta kemudian merekrutnya pada 1999.

Di Persija Jakarta ia memulai karir profesionalnya. Sebagai pemain muda untuk tim Macan Kemayoran Bepe yang kala itu masih berusia 20 tahun mampu membuktikan ketajamannya di lini serang Persija. Terbukti di tahun pertamanya ini ia mampu mencetak 24 gol dalam 30 pertandingan, angka yang sangat impresif untuk pemuda 20 tahun.

Kemudian pada 2000 EHC Norad meminjam Bambang Pamungkas dari Persija Jakarta. Dengan tampil sebanyak 11 kali Bepe sukses mencetak 7 gol untuk tim yang berbasis di Kota Hoensbroek, Heerlen, Belanda tersebut.

Setelah masa peminjaman di Belanda, Bepe kembali berbaju Macan Kemayoran hingga tahun 2005. Pada masa bakti periode kedua ini ia tetap produktif. Pada 2001 ia mampu menjadi Pemain Terbaik Liga Indonesia dan sukses membawa Persija Juara Liga Indonesia untuk pertama kali. Hingga 2005, Bepe sukses mengumpulkan 56 gol dari 96 kali penampilan bersama Persija.

Pada 2005 Bepe mendapatkan tawaran bermain di Malaysia, Selangor FA menjadi pelabuhan selanjutnya untuk seorang Bambang Pamungkas. Di Malaysia Bepe mampu membawa tim yang bermarkas di Shah Alam Stadium tersebut juara Malaysia Super League 2005, Malaysia FA Cup 2005 dan Malaysia Cup 2005.

Penampilan Bambang Pamungkas pun dieluh-eluhkan disana, hingga ia mendapat julukan sendiri dari fans Selangor FA yaitu “Bambang Pemusnah”.

Setelah dua tahun berbaju merah kuning Selangor,  Bepe kembali ke pelukan ibu kota. Pada periode ini lini serang Persija begitu menyeramkan, terdapat duet maut yang yang sangat berbahaya, yaitu duti Bepe, Aliyudin dan Greg Nwokolo.

Kata orang, duet ini adalah duet yang saling melengkapi. Jika Bambang Pamungkas adalah raja bola-bola udara, maka Aliyudin adalah raja bola-bola datar, dan Greg si raja lari dengan tusukan-tusukan mautnya. Jadilah trio ini dengan sebutan “Trio ABG”.


Pada 2012, masuk pada masa-masa kelam sepak bola Indonesia. Banyak masalah yang menimpa klub-klub Indonesia, tak tertekecuali Persija Jakarta. Di tahun ini Bambang Pamungkas meninggalkan Persija Jakarta dengan alasan gaji.

Setelah itu, Bepe pindah ke kota seberang, Bandung dan tim yang dipilihnya dalah Pelita Bandung Raya. Di sana juga Bepe tetap membuktikan bahwa naluri golnya belum habis. Bahkan saat laga melawan Persija Jakarta di Gelora Bung Karno, Bambang Pamungkas mampu mencetak gol dengan sundulan mautnya dihadapan puluhan ribu supporter Jak Mania.

Setelah setahun pergi, Bepe kemudian Kembali. Pada 2015 Bambang Pamungkas pulang ke ibu kota dan bermain di Persija. Memang saat ini ia bukan sosok pilihan utama bagi pelatih untuk ujung tombak Macan Kemayoran, namun sosoknya sangat penting bagi keseimbangan tim dan motivasi para pemain.

17 Desember 2019 menjadi moment yang tidak akan dilupakan bagi seorang Bambang Pamungkas. Ia memutuskan pensiun dari dunia sepak bola dan malam itu menjadi ceremony perpisahannya dengan Persija dan juga The Jak Mania.

Bambang Pamungkas menjadi alasan terbesar cita-cita anak muda Indonesia. Sosoknya mampu menjadi panutan dan kepribadiannya begitu terkenang dalam semangat jiwa untuk selalu pantang menyerah dan terus berhusaha menjadi yang terbaik.

“Jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena mungkin suatu saat nanti mimpi itu akan terwujud disertai do’a dan usaha” –Bambang Pamungkas.

Terima Kasih Legenda.



Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Materi PJOK Kelas 6 Persiapan ASAJ Tahun 2026

Halo anak-anak hebat siswa dan siswa SDN 1 Cepedak. Kalian sedang masuk dalam situs PJOK SDN 1 Cepedak. Materi ini di susun oleh Pak Isnan Shaffan Firdaus. Dalam situs ini kalian akan mempelajari materi PJOK untuk persiapan Asesmen Sumatif Akhir Jenjang tahun 2026. Kali ini Pak Guru akan memberikan rangkuman materi yang kemungkinan akan muncul dalam soal PJOK ASAJ besok. Jadi, Pak Guru harap kalian bisa membaca dengan seksama agar bisa memahami materi yang Pak Guru berikan. Semangat anak-anak! 1. Aktivitas Gerak Dominan Senam Lantai Pola gerak dominan adalah dasar-dasar gerakan yang mendasari semua keterampilan senam lantai. Gerakan-gerakan ini menjadi pondasi bagi siswa untuk melakukan aktivitas senam yang lebih kompleks secara aman dan terkontrol. Beberapa contoh gerak dominan meliputi bertumpu, keseimbangan, berpindah, mendarat, ayunan, tolakan, dan putaran. Senam lantai adalah gerakan senam yang dilakukan di atas matras. Gerakan-gerakan ini sangat mengandalkan keseimbangan, kekuata...

Wallpaper Gratis Indonesian Football Culture 01

Kembali lagi dengan edisi wallpaper mobile phone untuk pecinta sepak bola. Edisi kali ini, ISFT mengusung tema Indonesia Football Culture, di mana seluruh wallpaper yang dibagikan terinspirasi dari tim sepak bola Indonesia. Tidak hanya tim besar yang berlaga di kasta tertinggi, namun juga ISFT menampilan wallpaper dari tim sepakbola kecil yang ada di penjuru Nusantara. Untuk edisi kali ini ada tim sepak bola kebanggaan Banjarnegara, yaitu Persibara Banjarnegara. Rencananya, pada setiap edisinya, ISFT Football Culture akan selalu menampilkan tim-tim non liga yang juga memiliki basis suporter yang loyal dan memiliki ciri khas tersendiri yang tentunya sangat menarik untuk dinikmati dan diimplementasikan melalui karya visual. Terdapat pula 5 tim kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang saat ini berlaga di Liga 1. Tim tersebut antara lain, Bali United, Borneo FC, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta. Kelima tim tersebut masing-masing tentu syarat akan buda...

Patrich Wanggai dan Perjuangan Semu Melawan Rasisme

  Pertandingan Piala Menpora antara PSM Makassar melawan Persija Jakarta (22/03/2021) meninggalkan cerita pahit tentang rasisme. Yaitu Patrich Wanggai yang menjadi korban tindakan berbau rasis melalui media sosial. Rasisme tidak akan pernah berakhir selama manusia ada di muka bumi. Seperti itulah mungkin ungkapan yang paling pas untuk berbagai kasus dan kejadian rasisme belakangan ini. Terakhir ada nama Patrich Wanggai (32), pemain sepak bola kelahiran Nabire, Papua yang menjadi satu dari sekian korban tindakan rasis di Indonesia. Tindakan rasis atau membeda-bedakan satu golongan lebih baik dari golongan lain adalah sebuah larangan yang harus dipatuhi oleh setiap insan manusia. Demi kebaikan dan kenyamanan sesama makhluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, tindakan rasis seharusnya tidak ada di muka bumi ini. Sayangnya, otak manusia tidak pernah puas dengan dirinya sendiri. Kekuatan yang tidak sama dan perbedaan menjadi jurang pemisah sehingga menjadi percikan lahir...