Menjadi apa yang kita impikan selalu menyenangkan. Mampu merealisasikan secara sadar semua yang ada di alam impian dalam dunia nyata adalah kebahagiaan.
Sama halnya dengan bermain sepakbola dan menjadi pesepakbola. Mimpi sejuta umat di dunia.
Bermain sepakbola adalah kesenanganku sejak kecil. Memainkan bola di halaman rumah menjadi rutinitas yang tak pernah terlewatkan kala itu, kala semua begitu menyenangkan.
Begitu indah betapa bahagianya menendang bola plastik yang aku beli dengan sisa uang jajan sekolah. Memainkannya dengan teman atau sebatas bersama tembok rumah yang setelahnya penuh dengan tempelan kotor bercap bola.
Atau bahkan menghabiskan waktu sore hari hingga larut senja. Menunggu lantunan adzan maghrib Mbah Misban yang kami sepakati itu adalah sebagai alat penanda berakhirnya waktu pertandingan.
Bak peluit panjang dibunyikan, sesuai kesepakatan ketika adzan berkumandang kami semua lantas bergegas pulang, menghindari omel emak dirumah, diiringi langit sore yang menjingga dan hari mulai gelap kami pulang membawa senyuman.
Aku sendiri juga membawa senyuman dan sejuta impian yang aku simpan dan aku impikan ketika perjalanan setiap kali kembali ke rumah. Bermimpi besar menjadi pemain sepakbola profesional adalah mimpi besar sekaligus do'a yang selalu aku panjatkan.
Berharap suatu hari akan tiba masa dimana aku berada dipuncak terbaikku, membawa piala dan membanggakan keluarga yang selalu mendukung. Menjadi pemain Tim Nasional yang mengharumkan nama bangsa dan menginspirasi banyak anak muda.
Namun, pada satu waktu terkadang aku tersadar, itu semua hanyalah angan, impian hanya sebatas mimpi, masih terlalu jauh untuk aku meraihnya atau bahkan sudah lewat, atau malah sebenarnya aku yang terlalu jauh meletakan semua mimpi-mimpi itu, hingga bintangpun berpikir dua kali untuk menyelamatkanku.
Ada banyak jalan yang sebenarnya bisa saja membawaku kemana aku inginkan. Berada dengan orang-orang yang tepat, lingkungan yang mendukung dan fasilitas tercukupi sebenarnya sanggup untukku membawaku terbang jauh.
Teringat memori HW Cup 2015, moment dimana aku benar-benar merasa menjadi pemain sepakbola secara utuh dan semua yang aku impikan seolah mulai terlihat kala itu.
Pertandingan ronde pertama, aku memperkuat Diklat Merden yang kala itu diisi pemain-pemain top dari luar daerah. Sebagai pemain lokal yang besar dari Desa sendiri aku tentu bangga menjadi bagian dari tim ini.
Sebenarnya aku pun tak yakin aku bisa masuk tim utama dan bisa tampil dari menit awal. Aku sadar kemampunku tak seberapa, aku juga melihat masih ada yang lebih baik dariku yang sedang duduk di bangku cadangan.
Aku harus cepat sadar bahwa semua ini keputusan pelatih, dan dia memberi kepercayaan lebih kepadaku dan aku harus membuktikannya di atas lapangan.
Pertandingan dimulai tepat ketika aku benar-benar siap. Rasa cemas aku hiraukan dan mulai mengikuti irama permainan. Masuk pada pertengahan babak pertama Rizki bersiap mengambil sepak pojok. Aku berada di depan kotak penalti lawan bersiap jika ada serangan balik.
Rizki menendang bola kearah titik penalti, dimana semua pemain siap menyambut bola itu, dan lawan berhasil membuangnya hingga jatuh tepat didepan kakiku.
Bola tersebut aku terima dengan kaki bagian dalam, dan aku berusaha agar bola itu berada pada penguasaanku, walau masih memantul seketika pada moment itu aku memutuskan untuk menendangnya ke arah gawang.
Tendangan setengah volly tersebut meluncur deras kearah kiper dan tak mampu diselamatkannya dan itu artinya aku sukses membuat gol ke gawang lawan.
Hampir tak bisa berkata apa-apa, yang aku lakukan berikutnya hanya berteriak sekencang-kencangnya dan yaaahh, aku bisaa.
Babak pertama hampir selesai, tim lawan mulai menyerang dan sayang pertahanan kami jebol dan tim lawan mampu menyamakan kedudukan hingga babak pertama berakhir.
Masuk ruang ganti, pelatih memberi instruksi untuk lebih enjoy dan menikmati permainan, lakukan apa yang sudah kita lakukan pada latihan dan kita terapkan pada permainan kali ini, setidaknya untuk satu gol cukup.
Kata-kata yang seolah menyihirku untuk mengulang perjuangan ketika latihan dan segala apa yang telah dikorbankan.
Pertandingan babak keduapun dimulai, aku masih menjadi jendral lapangan tengah mencoba berbagai pola serangan untuk menembus pertahanan lawan.
Hingga pada satu moment Andi yang berposisi sebagai wing kiri berlari begitu cepat membawa bola. Pemain lawan berusaha kembali ke posisi mereka masing-masing namun masih kalah dengan Andi.
Aku yang berada di lapangan tengah mencoba mengimbangi kecepatan Andi sambil berjaga agar tetap pada posisi aman, tidak terlalu jauh kedapan dan tidak terlalu kebelakang.
Hingga pada akhirnya Andi mampu menusuk ke dalam kotak penalti lawan dan mengumpan bola ke arah tengah kotak penalti dimana tepat lurus dengan arah posisi ku berlari. Selagi masih ada ruang kosong aku pun menyadari apa yang harus aku lakukan, lantas tendangan keras menyusur tanah aku lepaskan dan tak mampu dihalau kiper.
Dan yahhhhh, sekali lagi aku bisa, aku membuktikannya lagi. Gol yang sangat berarti untuk tim dan cukup untuk mengakhiri pertandingan ini dengan kemenangan.
Sungguh hari yang luar biasa bagiku, mampu memberikan hal yang begitu baik untuk tim, Aku benar-benar tak percaya semua ini terjadi. Mampu mencetak gol tidak hanya satu tapi dua dan sekaligus meraih kemenangan dan dilihat banyak orang. Terimaksih Tuhan, terimakasih atas segalanya.
Dan itulah moment terindahku, kala itu, kala semua begitu menyenangkan. Moment dimana semua yang aku impikan tidak lagi dapat aku wujudkan. Seolah menjadi akhir bahwa aku lebih baik menikmati dari pada pada harus bermain tetapi membuat sakit hati.
Pada dasarnya manusia selalu mempunyai hasrat yang besar untuk menjadi yang terbaik dan yang paling baik. Namun terkadang keberutungan tidak selalu berpihak pada setiap manusia untuk menentukan jalannya sendiri.
Ada campur tangah Tuhan, dimana ketika takdir dan angan-angan terkadang tidak bisa dikompromikan dan disatukan secara utuh. Ada skenario Tuhan yang sudah menuntun kejalan-Nya masing-masing.
Menjalani suatu hal yang secara sadar tidak kita inginkan, akan tetapi entah mengapa selalu ada jalan untuk kembali ketempat tersebut sekalipun kita tersesat. Karena sekali lagi, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
Sama halnya denganku. Aku yang selalu bercita-cita menjadi pesepakbola dan lihat sekarang sedang duduk manis di sudut kamar kos yang pengap. Entah apa yang aku lakukan namun aku tak tahu harus bagaimana lagi keluar dari sini.
Merancang jalan lain untuk hidupku yang akan datang yang sepertinya juga bukan apa yang aku inginkan.
Resah memang, namun harus dijalani. Bukan untuk menyerah tapi untuk dihadapi dan menjemput bahwa inilah goresan Tuhan untukku, untukku hidupku.
Aku sadar hidupku tak semenarik itu, tak perlu kalian bayangkan aku sendiripun sebenarnya malu untuk menceritakan. Kadang iri dengan hidup kalian, kok bisa gitu ya, kok bisa sesuai apa yang diinginkan ya, kok bisa bahagia yaa ?
Lalu kembali lagi, aku harus sadar dan harus selalu menapak di bumi, tidak selamanya harus tenggelam dalam keresahan. Menjadi diri sendiri lebih baik dari membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang pada akhirnya hanya akan membuat kita semakin terpuruk.
Keresahan atas segala apa yg kita rasakan tak seharusnya kita pendam dan menjadikan semua itu semakin rumit. Kenyataan yang pahit tak selamanya memberi dampak buruk. Percaya pada Tuhan alam semesta, bertahan dan terus berjuang menjadi dirimu sendiri.

