Langsung ke konten utama

Aku dan Sepakbola



Sore yang gabut membuatku sedikit untuk merenung apa yang lebih baik dilakukan ketimbang rebahan. Memikirkan hal yang tak pasti malah membuat hati ini semakin ra nggenah. Aku memutuskan untuk menulis, apa saja, semua yang ada diotak berusaha aku rangkai menjadi kata-kata dan cerita.

Satu topik yang tiba-tiba muncul adalah sepakbola, jadi ya seperti inilah ceritaku.

Sejak kecil aku besar dan tumbuh dengan bermain sepakbola. Entah siapa yang mengenalkanku pada sepakbola waktu itu, aku tak ingat pasti. Ingatanku hanya pada saat Ayahku membelikanku jersey AS Roma bertuliskan TOTTI dan lengkap dengan nomor punggung 10 nya. Sayangnya baju tersebut sekarang sudah entah kemana, namun kenangan manis dari jersey tersebut akan tetap tersimpan di hati.

Saat itu umurku sekitar 7 tahun, bola yang aku beli pertama kali adalah bola plastic bermerek Dua Kelinci. Merek yang sangat melegenda saat itu, gak tahu sekarang di warung masih ada yang jual merek itu apa engga.

Siapapun yang memainkannya saat itu pasti akan mengatakan bahwa bola tersebut adalah bola plastic terbaik yang pernah dibuat hahaha (humorku), karena bahannya yang tebal, awet dan murah membuat bola tersebut begitu dicintai anak kampung.

Pada awalnya aku tak tahu pasti apa yang harus aku lakukan dengan bola itu. Namun, ketika aku tahu ada fungsi dari benda berbentuk bulat itu untuk ditendang, aku mulai menyukai memainkannya.

Bermain di halaman rumah dan menendangnya ke tembok adalah aktivitas yang sangat menyenangkan dan membuat perasaanku begitu bahagia saat itu. Karena dengan bermain bola walaupun tak ada teman, namun aku tak pernah merasa sendiri. Karena temanku saat itu adalah bola itu sendiri.

Ingat saat dulu baru kenal dengan sepakbola dan aku gak suka main bola yang rebutan. “Aku suka bermain bola tapi aku tidak suka jika bermain rebutan, sakit kalau kakiku yang ditendang gimana?”. Entah pada siapa aku mengatakan itu, yang pasti waktu itu aku benar-benar hanya ingin bermain bola sendiri dan menendangnya saja, bukan untuk saling berebut, “bola itu milikku jika kamu mau merebutnya lebih baik kamu beli saja sendiri”. Pikirku saat itu.

Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai mencari tahu dan mendapatkan informasi tentang apa itu sepakbola secara sederhana, yaitu mencetak gol sebanyak-banyak di gawang lawan. Tibalah pada waktu aku pertama kali menonton siaran sepakbola di Televisi. Pertandingan Liga Indonesia dan Persija Jakarta saat itu sedang bermain tapi aku tak ingat siapa lawannya.

Pada pertandingan itu aku hanya menonton karena aku tak tahu apa-apa dan hanya berusaha untuk menikmatinya saja.  Aku sangat ingat pada pertandingan itu nama Bambang Pamungkas berulang kali diucapkan sang Komentator. Rupanya dia adalah bintang Persija saat itu dan mulai saat itu aku mulai menyukai Persija dan mengidolai Bambang Pamungkas.

Setelah itu, hari-hariku mulai aku isi dengan bermain bola, di sekolahan, di rumah dan sore hari bermain bola bersama teman-teman dipelataran masjid kampung, yang saat ini akan menjadi moment yang begitu indah untuk selalu dikenang.

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Materi PJOK Kelas 6 Persiapan ASAJ Tahun 2026

Halo anak-anak hebat siswa dan siswa SDN 1 Cepedak. Kalian sedang masuk dalam situs PJOK SDN 1 Cepedak. Materi ini di susun oleh Pak Isnan Shaffan Firdaus. Dalam situs ini kalian akan mempelajari materi PJOK untuk persiapan Asesmen Sumatif Akhir Jenjang tahun 2026. Kali ini Pak Guru akan memberikan rangkuman materi yang kemungkinan akan muncul dalam soal PJOK ASAJ besok. Jadi, Pak Guru harap kalian bisa membaca dengan seksama agar bisa memahami materi yang Pak Guru berikan. Semangat anak-anak! 1. Aktivitas Gerak Dominan Senam Lantai Pola gerak dominan adalah dasar-dasar gerakan yang mendasari semua keterampilan senam lantai. Gerakan-gerakan ini menjadi pondasi bagi siswa untuk melakukan aktivitas senam yang lebih kompleks secara aman dan terkontrol. Beberapa contoh gerak dominan meliputi bertumpu, keseimbangan, berpindah, mendarat, ayunan, tolakan, dan putaran. Senam lantai adalah gerakan senam yang dilakukan di atas matras. Gerakan-gerakan ini sangat mengandalkan keseimbangan, kekuata...

Wallpaper Gratis Indonesian Football Culture 01

Kembali lagi dengan edisi wallpaper mobile phone untuk pecinta sepak bola. Edisi kali ini, ISFT mengusung tema Indonesia Football Culture, di mana seluruh wallpaper yang dibagikan terinspirasi dari tim sepak bola Indonesia. Tidak hanya tim besar yang berlaga di kasta tertinggi, namun juga ISFT menampilan wallpaper dari tim sepakbola kecil yang ada di penjuru Nusantara. Untuk edisi kali ini ada tim sepak bola kebanggaan Banjarnegara, yaitu Persibara Banjarnegara. Rencananya, pada setiap edisinya, ISFT Football Culture akan selalu menampilkan tim-tim non liga yang juga memiliki basis suporter yang loyal dan memiliki ciri khas tersendiri yang tentunya sangat menarik untuk dinikmati dan diimplementasikan melalui karya visual. Terdapat pula 5 tim kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang saat ini berlaga di Liga 1. Tim tersebut antara lain, Bali United, Borneo FC, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta. Kelima tim tersebut masing-masing tentu syarat akan buda...

Patrich Wanggai dan Perjuangan Semu Melawan Rasisme

  Pertandingan Piala Menpora antara PSM Makassar melawan Persija Jakarta (22/03/2021) meninggalkan cerita pahit tentang rasisme. Yaitu Patrich Wanggai yang menjadi korban tindakan berbau rasis melalui media sosial. Rasisme tidak akan pernah berakhir selama manusia ada di muka bumi. Seperti itulah mungkin ungkapan yang paling pas untuk berbagai kasus dan kejadian rasisme belakangan ini. Terakhir ada nama Patrich Wanggai (32), pemain sepak bola kelahiran Nabire, Papua yang menjadi satu dari sekian korban tindakan rasis di Indonesia. Tindakan rasis atau membeda-bedakan satu golongan lebih baik dari golongan lain adalah sebuah larangan yang harus dipatuhi oleh setiap insan manusia. Demi kebaikan dan kenyamanan sesama makhluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, tindakan rasis seharusnya tidak ada di muka bumi ini. Sayangnya, otak manusia tidak pernah puas dengan dirinya sendiri. Kekuatan yang tidak sama dan perbedaan menjadi jurang pemisah sehingga menjadi percikan lahir...