Langsung ke konten utama

RECAP: SEPAKBOLA INDONESIA 2018



Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar “Sepakbola Indonesia di Tahun 2018?”.


ISFootball - Tahun 2018 menyimpan sejuta kenangan serta pelajaran berharga untuk Sepakbola Indonesia. Teman-teman tentu ingat bagaimana perjuangan timnas Indonesia saat berjumpa Qatar di Piala Asia U-19, atau saat timnas U-16 tampil habis-habisan saat melawan Australia ? atau bahkan yang paling menyedihkan adalah kasus pengaturan skor yang ternyata sangat lekat dengan Sepakbola Indonesia.

Perjalanan Sepakbola Indonesia sepanjang tahun 2018 memang tak terlalu mengesankan untuk dibanggakan. Terkecuali prestasi yang didapatkan Bagas-Bagus di Piala AFF 2018 yang sukses keluar sebagai juara. Selebihnya timnas Indonesia gagal untuk mencapai target yang dipasang federasi.

Namun, sepakbola Indonesia juga tidak bisa dikatakan gagal total di tahun 2018. Setidaknya ada setitik asa yang dapat kita harapkan, melihat rekam jejak dari timnas Indonesia U-16 dan U-19 di 2018 tentu ada secercah harapan untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang. Itu pun jika dikelola dengan baik.

Berikut perjalanan Timnas Indonesia di tahun 2018.

·         PIALA AFF U-18
JUARA KETIGA PIALA AFF U-18 2018

Sumber foto: Okezone.com

Pada pertengahan tahun 2018, tepatnya bulan Juli. Timnas Indonesia memulai perjalanannya dengan mengikuti turnamen tahunan kelompok umur yaitu Piala AFF U-18 yang digelar di Indonesia.
Memiliki target sebagai juara, Egy Maulana Vikri dkk justru tak mampu mengulang kesuksesan lima tahun lalu untuk menjadi juara di negeri sendiri.

Melawan musuh bebuyutan di semi final. Indonesia tak mampu mengalahkan Malaysia setelah kalah lewat babak adu pinalti. Egy Maulana Vikri yang dalam laga itu baru pulang dari Polandia langsung diturunkan di menit awal dan mampu mencetak gol. Namun, ia tak mampu menyelesaikan pertandingan karena masalah kondisi fisik.

Alhasil, dipertandingan perbutan tempat ketiga Indonesia mampu mengalahkan Thailand dengan skor 2-1.

PIALA AFF U-16 2018
INDONESIA U-16 JUARA PIALA AFF U-16 2018

Sumber foto: Bola.com

Timnas Indonesia U-16 mampu tampil sebagai juara di Piala AFF U-16. Pada partai puncak Indonesia mampu mengalahkan Thailand melalui babak adu pinalti.

Penampilan luar biasa ditunjukan asuhan Coach Fakhri Husaini yang mampu tampil superior sepanjang turnamen. Bagas-Bagus menjadi idola baru setelah tampil mengesankan dan berkontribusi banyak atas keluarnya Indonesia sebagai juara.

ASIAN GAMES 2018
TERHENTI DI BABAK 16 BESAR

Sumber foto: Tempo.co

Pada Asian Games 2018, Indonesia tampil dengan kekuatan terbaiknya yang ditangani langsung oleh Coach Luis Milla. Pada ajang ini bisa dibilang sebagai ajang pembuktian kapasitas Luis Milla setelah hampir satu tahun menangani timnas Indonesia.

Dengan hasil yang cukup memuaskan di fase grup, dengan hanya kalah satu kali saat melawan Palestina. Indonesia mampu melaju ke babak 16 besar dengan bertemu lawan dari timur tengah yaitu Uni Emirat Arab.

Di babak 16 besar Indonesia mampu tampil perkasa dengan berhasil menahan imbang skor 2-2 hingga menit terakhir. Indonesia harus menjalani perpanjangan waktu, namun skor tidak berubah dan memaksa pertandingan dilanjutkan dengan babak adu pinalti.

Indonesia akhirnya kalah setelah hanya mampu mencetak 3 gol tertinggal dari UAE yang mampu memasukan 4 gol.

Setelah gelaran ini, posisi Luis Milla menjadi abu. Ketidakjelasan federasi dalam mengambil keputusan membuat Luis Milla memilih meninggalkan jabatan pelatih timnas dan kembali ke Spanyol.

Hal ini tentu menjadi pukulan bagi timnas Indonesia karena pada bulan November akan ada Turnamen bergengsi Piala AFF 2018.

PIALA ASIA U-16
TERHENTI BABAK 8 BESAR

Sumber foto: the-afc.com

Setelah mampu tampil luar biasa pada Piala AFF U-16 2018. Skuat asuhan Coach Fakhri Husaini akan menghadapi tantangan yang lebih besar yaitu Piala Asia U-16. Yang mana turnamen ini digelar juga untuk sebagai ajang kualifikasi Piala Dunia U-17 dengan menyediakan 4 tiket. Yang berarti 4 tim yang mampu menembus semi final akan otomatis lolos ke Piala Dunia U-17 2019.

Namun, takdir berkata lain, Indonesia harus takluk di tangan Australia dengan skor 3-2. Padahal jika mampu menang Indonesia akan mencatatkan sejarah baru di persepakbolaan Indonesia.

PIALA ASIA U-18
TERHENTI BABAK 8 BESAR

Sumber foto: Tribunnews.com

Syahrian Abimanyu dkk mampu menampilakan permainan luar biasa pantang menyerah pada Piala Asia U-19 2018. Tentu pertandingan yang paling diingat adalah pertandingan antara Indonesia melawan Qatar.
Skuat asuhan Indra Sjafri benar-benar membuat supporter kagum dengan mampu mengejar ketertinggalan skor menjadi hasil 5-6. Walaupun belum mampu menang, namun dengan ini menunjukan bahwa Indonesia memiliki kualiatas diatas rata-rata.

Indonesia pun mampu melaju ke babak 8 besar dan melawan Jepang. Andai saat itu Indonesia mampu menang tentu akan membuat Indonesia lolos ke Piala Dunia U-20 2019. Namun, kembali takdir yang berbicara bahwa Indonesia masih dibawah level permainan Jepang. Indonesia pun harus kembali mengubur untuk tampil di Piala Dunia.

PIALA AFF 2018
TIDAK LOLOS GRUP

Sumber foto: Bola.net

Indonesia turun di Piala AFF dengan kekuatan yang hampir sama dengan tim di Asian Games 2018. Namun, dengan pelatih yang berbeda. Ya, setelah Luis Milla memutuskan tidak melanjutkan kerjasama dengan Indonesia. PSSI menunjuk Bima Sakti yang mana adalah asisten pelatih Luis Milla.

Namun, dengan pengalaman yang tidak terlalu banyak membuat beban berat berada di pundak Bima Sakti. Pada pertandingan pertama bisa terlihat indonesia tidak bisa mengimbangi permainan Singapura, Indonesia pun harus takluk 1-0.

Indonesia hanya mampu menang satu kali yaitu saat melawan Timor Leste dengan skor 3-1. Selebihnya Indonesia tumbang melawan Thailand 4-2 dan imbang melawan Filipina dengan skor 0-0.

Pada akhirnya Indonesia tidak mampu lolos dari grup dan menempati posisi ke-4 diatas Timor Leste.


Tahun 2018 benar-benar harus dilakukan evaluasi secara mendalam demi perkembangan Timnas Indonesia. Banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari raihan yang didapat Tim Nasional.

Dari masalah target, pelatih hingga masalah nonteknis yang berhubungan dengan supporter harus kembali dievaluasi secara mendalam.

PSSI harus mampu bersikap tegas sebagai badan yang bertanggung jawab atas prestasi tim nasional dan keberlangsungan persepakbolaan Indonesia.

Tentu masyarakat umum sudah mengetahui dan sudah menjadi bahan pembicaraan hangat beberapa bulan kemarin terkait masalah match fixing atau pengaturan skor pertandingan. Dalam hal ini tentunya PSSI tidak harus terlibat dalam kasus yang seharusnya diberantas oleh PSSI sendiri.

Namun, realitanya justru anggota PSSI juga terlibat dalam pengaturan skor di negeri ini. Para pemain sepakbola Indonesia juga selayaknya tak perlu "melacurkan" diri demi segepok uang yang sebenarnya tak ada nilainya.

Dalam hal ini semua elemen masyarakat diharapkan bersatu untuk memberantas pengaturan skor yang ada di Indonesia. Sehingga prestasi-prestasi yang diharapkan pun dapat kita peroleh dan nikmati bersama.

Sebagai pecinta sepakbola Indonesia tentu hal yang harus kita lakukan adalah mengawal semua perkembangan sepakbola yang ada di Indonesia. Tentu harapan kita masih sama, yaitu menjadi saksi lambang Garuda tampil di panggung dunia.




Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Materi PJOK Kelas 6 Persiapan ASAJ Tahun 2026

Halo anak-anak hebat siswa dan siswa SDN 1 Cepedak. Kalian sedang masuk dalam situs PJOK SDN 1 Cepedak. Materi ini di susun oleh Pak Isnan Shaffan Firdaus. Dalam situs ini kalian akan mempelajari materi PJOK untuk persiapan Asesmen Sumatif Akhir Jenjang tahun 2026. Kali ini Pak Guru akan memberikan rangkuman materi yang kemungkinan akan muncul dalam soal PJOK ASAJ besok. Jadi, Pak Guru harap kalian bisa membaca dengan seksama agar bisa memahami materi yang Pak Guru berikan. Semangat anak-anak! 1. Aktivitas Gerak Dominan Senam Lantai Pola gerak dominan adalah dasar-dasar gerakan yang mendasari semua keterampilan senam lantai. Gerakan-gerakan ini menjadi pondasi bagi siswa untuk melakukan aktivitas senam yang lebih kompleks secara aman dan terkontrol. Beberapa contoh gerak dominan meliputi bertumpu, keseimbangan, berpindah, mendarat, ayunan, tolakan, dan putaran. Senam lantai adalah gerakan senam yang dilakukan di atas matras. Gerakan-gerakan ini sangat mengandalkan keseimbangan, kekuata...

Wallpaper Gratis Indonesian Football Culture 01

Kembali lagi dengan edisi wallpaper mobile phone untuk pecinta sepak bola. Edisi kali ini, ISFT mengusung tema Indonesia Football Culture, di mana seluruh wallpaper yang dibagikan terinspirasi dari tim sepak bola Indonesia. Tidak hanya tim besar yang berlaga di kasta tertinggi, namun juga ISFT menampilan wallpaper dari tim sepakbola kecil yang ada di penjuru Nusantara. Untuk edisi kali ini ada tim sepak bola kebanggaan Banjarnegara, yaitu Persibara Banjarnegara. Rencananya, pada setiap edisinya, ISFT Football Culture akan selalu menampilkan tim-tim non liga yang juga memiliki basis suporter yang loyal dan memiliki ciri khas tersendiri yang tentunya sangat menarik untuk dinikmati dan diimplementasikan melalui karya visual. Terdapat pula 5 tim kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang saat ini berlaga di Liga 1. Tim tersebut antara lain, Bali United, Borneo FC, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta. Kelima tim tersebut masing-masing tentu syarat akan buda...

Patrich Wanggai dan Perjuangan Semu Melawan Rasisme

  Pertandingan Piala Menpora antara PSM Makassar melawan Persija Jakarta (22/03/2021) meninggalkan cerita pahit tentang rasisme. Yaitu Patrich Wanggai yang menjadi korban tindakan berbau rasis melalui media sosial. Rasisme tidak akan pernah berakhir selama manusia ada di muka bumi. Seperti itulah mungkin ungkapan yang paling pas untuk berbagai kasus dan kejadian rasisme belakangan ini. Terakhir ada nama Patrich Wanggai (32), pemain sepak bola kelahiran Nabire, Papua yang menjadi satu dari sekian korban tindakan rasis di Indonesia. Tindakan rasis atau membeda-bedakan satu golongan lebih baik dari golongan lain adalah sebuah larangan yang harus dipatuhi oleh setiap insan manusia. Demi kebaikan dan kenyamanan sesama makhluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, tindakan rasis seharusnya tidak ada di muka bumi ini. Sayangnya, otak manusia tidak pernah puas dengan dirinya sendiri. Kekuatan yang tidak sama dan perbedaan menjadi jurang pemisah sehingga menjadi percikan lahir...