Langsung ke konten utama

Maknai Sepakbola




ISFootball - Sepakbola Indonesia menjadi isu terhangat yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini. Kabar baik atau kabar buruk selalu menjadi topik utama yang sangat menarik untuk diperdebatkan. Berbicara kabar baik atau kabar buruk, tampaknya tak ada kabar baik yang perlu dibanggakan justru kabar buruk yang selalu mengundang pertanyaan.

Sepakbola di Indonesia sudah menjadi budaya yang mengakar di dalam perkembangan masyarakatnya. Menjadikan olahraga rebutan bola kaki ini menjadi olahraga yang paling popular di Indonesia. Dimana ada tanah lapang kita bisa melihat bersama, anak kecil hingga orang dewasa saling adu skill dengan bola seadanya dan tanpa memperdulikan merek apapun yang menepel di kaki mereka.

Dengan mengakarnya budaya sepakbola di Indonesia, hampir di setiap sudut bangsa ini memiliki tim kebanggaan masing-masing, dari tim liga nasional, kabupaten, kecamatan, bahkan dari tingkat desa hingga tingkat dusun pun mereka memiliki tim kesayangan. Yang tak jarang hal ini menjadi jurang pemisah persatuan bangsa.

Kefanatikan terhadap sepakbola di masyarakat Indonesia tentu sudah tidak dapat diragukan lagi. Terbukti beberapa waktu lalu, media luar negeri Copa90 sangat mengapresiasi supporter PSS Sleman yaitu Brigata Curva Sud yang terkenal sangat fanatik dengan mengadopsi budaya ultras di Italia.

Jauh sebelum itu juga banyak media asing yang meliput sepakbola Indonesia karena sangat tertarik melihat bagaimana para supporter di Indonesia sangat antusias mendukung klub kebangganya dan tak pernah lelah untuk memberikan dukungan terbaiknya demi kemenangan yang menjadi harga matinya.

Kefanatikan supporter Indonesia sudah terbukti diakui media-media asing. Bahkan dunia pun mengakui bahwa masyarakat Indonesia termasuk masyarakat yang sangat menggilai sepakbola. Namun, disini yang perlu digaris bawahi adalah kesadaran supporter kita yang masih dipertanyakan. Apakah mereka mendukung untuk persatuan dan kedamaian ? ataukah mereka mendukung untuk perpecahan dan saling menjatuhkan ?

Tanda tanya besar yang tidak disadari oleh masyarakat kita. Ego yang terlalu tinggi, ikatan batin dan terlalu membangga-banggakan klub kesayangannya terkadang menutup hati nurani mereka.




Kita tentu ingat, kasus fans Persija Jakarta beberapa waktu lalu yang dihabisi oleh oknum supporter Persib Bandung dengan tindakan seperti orang yang tak beradab dan tak punya otak. Bukan sedang membela salah satu kubu, namun tindakan seperti itu tentu bukan budaya bangsa Indonesia.

Apakah etis, ketika kita menghabisi saudara setanah dan sebangsa sendiri, apakah etis menghacurkan impian seseorang hanya demi lambang di dada ? Hello, apakah ini Indonesia ?

Lebih dari itu, kebanggan terhadap klub kecintaan pada dasarnya adalah hak setiap masyrakat untuk saling mendukung. Namun, dalam hal ini juga ada batas yang harus disadari bersama, bahwa persatuan dan kesatuan lah yang harus dijunjung tinggi.

Apapun warna yang kita pakai seharusnya tidak membuat kita untuk saling menjatuhkan. Terlalu membangga-banggakannya apalagi sampai mencela hingga menghilangkan nyawa adalah bukan budaya yang sepatutnya ada dalam sepakbola.

Kita sebagai bangsa Indonesia tentu harus mawas diri, sebagai bangsa yang sangat mencintai sepakbola, tentu harus mengerti dan menjiwai apa arti yang sebenarnya yang terkandung di dalamnya. Sepakbola memang bukan hanya sekedar permainan, sepakbola dapat dikatakan budaya bahkan ada yang berpendapat bahwa sepakbola adalah agama mereka.

Apapun pendapat yang berkembang, tentu dalam arti sebenarnya sepakbola tidak mengajarkan arti kekerasan apalagi saling membunuh sesama insan. Selain itu, kita juga harus memaknai bahwa sepakbola hanyalah hiburan semata. Sebagai sarana untuk menghibur diri mendukung tim kebanggaan di akhir pekan.



Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Materi PJOK Kelas 6 Persiapan ASAJ Tahun 2026

Halo anak-anak hebat siswa dan siswa SDN 1 Cepedak. Kalian sedang masuk dalam situs PJOK SDN 1 Cepedak. Materi ini di susun oleh Pak Isnan Shaffan Firdaus. Dalam situs ini kalian akan mempelajari materi PJOK untuk persiapan Asesmen Sumatif Akhir Jenjang tahun 2026. Kali ini Pak Guru akan memberikan rangkuman materi yang kemungkinan akan muncul dalam soal PJOK ASAJ besok. Jadi, Pak Guru harap kalian bisa membaca dengan seksama agar bisa memahami materi yang Pak Guru berikan. Semangat anak-anak! 1. Aktivitas Gerak Dominan Senam Lantai Pola gerak dominan adalah dasar-dasar gerakan yang mendasari semua keterampilan senam lantai. Gerakan-gerakan ini menjadi pondasi bagi siswa untuk melakukan aktivitas senam yang lebih kompleks secara aman dan terkontrol. Beberapa contoh gerak dominan meliputi bertumpu, keseimbangan, berpindah, mendarat, ayunan, tolakan, dan putaran. Senam lantai adalah gerakan senam yang dilakukan di atas matras. Gerakan-gerakan ini sangat mengandalkan keseimbangan, kekuata...

Wallpaper Gratis Indonesian Football Culture 01

Kembali lagi dengan edisi wallpaper mobile phone untuk pecinta sepak bola. Edisi kali ini, ISFT mengusung tema Indonesia Football Culture, di mana seluruh wallpaper yang dibagikan terinspirasi dari tim sepak bola Indonesia. Tidak hanya tim besar yang berlaga di kasta tertinggi, namun juga ISFT menampilan wallpaper dari tim sepakbola kecil yang ada di penjuru Nusantara. Untuk edisi kali ini ada tim sepak bola kebanggaan Banjarnegara, yaitu Persibara Banjarnegara. Rencananya, pada setiap edisinya, ISFT Football Culture akan selalu menampilkan tim-tim non liga yang juga memiliki basis suporter yang loyal dan memiliki ciri khas tersendiri yang tentunya sangat menarik untuk dinikmati dan diimplementasikan melalui karya visual. Terdapat pula 5 tim kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang saat ini berlaga di Liga 1. Tim tersebut antara lain, Bali United, Borneo FC, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta. Kelima tim tersebut masing-masing tentu syarat akan buda...

Patrich Wanggai dan Perjuangan Semu Melawan Rasisme

  Pertandingan Piala Menpora antara PSM Makassar melawan Persija Jakarta (22/03/2021) meninggalkan cerita pahit tentang rasisme. Yaitu Patrich Wanggai yang menjadi korban tindakan berbau rasis melalui media sosial. Rasisme tidak akan pernah berakhir selama manusia ada di muka bumi. Seperti itulah mungkin ungkapan yang paling pas untuk berbagai kasus dan kejadian rasisme belakangan ini. Terakhir ada nama Patrich Wanggai (32), pemain sepak bola kelahiran Nabire, Papua yang menjadi satu dari sekian korban tindakan rasis di Indonesia. Tindakan rasis atau membeda-bedakan satu golongan lebih baik dari golongan lain adalah sebuah larangan yang harus dipatuhi oleh setiap insan manusia. Demi kebaikan dan kenyamanan sesama makhluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, tindakan rasis seharusnya tidak ada di muka bumi ini. Sayangnya, otak manusia tidak pernah puas dengan dirinya sendiri. Kekuatan yang tidak sama dan perbedaan menjadi jurang pemisah sehingga menjadi percikan lahir...