Setelah terakhir kali pada tahun 2014, sepakbola Indonesia kembali merasakan atmosfer Piala Dunia tahun ini. Fase kualifikasi menjadi ujian pertama Evan Dimas cs untuk membuktikan kelayakannya menuju panggung Piala Dunia 2022.
Piala Dunia seolah kembali menjadi hal baru bagi sepakbola Indonesia. Pada perhelatan Piala Dunia 2018 Indonesia absen, atau lebih tepatnya dilarang keikutsertaanya dalam persaingan kualifikasi zona Asia.
Terakhir kali pada 2014, Indonesia masih mampu merasakan atmosfer Piala Dunia, setidaknya hanya untuk level kualifikasi dan sebatas meramaikan peta persaingan.
Konflik dualisme kekuasaan membuat prestasi Indonesia sedikit menurun. Walaupun memang pada kenyataanya belum ada prestasi yang dibanggakan. Sanksi FIFA menjadi alasan terbesar mengapa sepakbola kita menjadi terhambat eksistensinya kala itu.
Namun, justru hal tersebut berbanding terbalik kala 2016. Setelah sanksi FIFA dicabut. Timnas Indonesia kembali berpartisipasi dalam Piala AFF 2016.
Timnas Indonesia mampu menembus babak final. Bak Timnas Italia kala 2006 yang mampu menjadi Juara Dunia setelah pada tahun tersebut Liga Italia sedang mengalami masalah yaitu Calciopoli.
Sayangnya, Indonesia hanya mampu menjadi yang terbaik nomor dua, hal yang selalu terjadi ketika timnas menembus partai final. Sehingga membuat Indonesia mengoleksi lima kali runner up selama perhelatan Piala AFF digelar dan belum pernah menjadi juara.
Dengan berhasilnya Indonesia mampu menembus partai final, setidaknya mengobati luka dan membayar dahaga masyarakat Indonesia selama dua tahun tanpa atmosfer sepakbola tertinggi.
Pada tahun 2017 menjadi titik balik bangkitnya persepakbolaan Indonesia. Luis Milla, sang legenda sepakbola Spanyol dan jajaran pelatih top Eropa ditunjuk PSSI sebagai nahkoda baru Timnas Indonesia.
Hal ini menjadi dobrakan baru era sepakbola Indonesia. Dengan mendatangkan pelatih Spanyol diharapkan permainan Indonesia berubah menjadi lebih baik atau setidaknya mampu menyumbang prestasi untuk Indonesia.
"Sangat penting untuk saya menerima pekerjaan ini. Ini adalah sebuah tanggung jawab penting. Saya sudah tiba dua hari lalu dan begitu antusias melihat sambutan orang-orang Indonesia. Saya yakin bisa membuat tim yang bagus", ungkap Milla dalam koferensi pers di kantor PSSI, Jakarta.
Setelah itu kerangka Timnas Indonesia era Luis Milla mulai dibentuk. Pemain muda menjadi pondasi permainan Luis Milla.
Hal ini dikarenakan tidak adanya agenda penting Timnas Indonesia pada tahun 2017 sampai pertengahan 2018. Sehingga Luis Milla merangkap sebagai pelatih Timnas Indonesia U-23 dan sebagai persiapan untuk mengandapi SEA Games 2017 dan Asian Games 2018.
Pada SEA Games 2017 sepakbola Indonesia belum mampu memberikan emas untuk Indonesia. Peringkat ketiga membuat Indonesia harus puas meraih perunggu. Sedangkan pada Asian Games, Indonesia hanya mampu menembus 16 besar.
Terlepas dari kegagalan Indonesia mencapai prestasi terbaik. Disisi lain permainan Indonesia mulai membaik. Sentuhan tangan dingin Luis Milla dan permainan khas sepakbola Spanyol dapat dirasakan dan ditampilkan Garuda Muda.
Alih-alih bertahan dan mulai menatap Piala AFF 2018. Justru Luis Milla memilih pergi dan tidak melanjutkan kontrak sebagai pelatih timnas. Ditengah kondisi sepakbola indonesia yang saat itu kembali memanas akibat isu pengaturan skor yang dilakukan para pengurus internal PSSI dan kurangnya professionalisme PSSI diduga menjadi alasan hengkangnya Milla.
Setelah Milla pergi juru taktik Timnas kemudian diberikan kepada Bima Sakti. Asisten Milla ketika melatih indonesia. Dengan pengalaman melatih yang masih minim, Bima Sakti langsung dibebani tugas berat untuk memimpin skuad Garuda menghadapi Piala AFF 2018.
Indonesia berada di grup B bersama Thailand, Singapura, Filipina dan Timor Leste. Dari empat laga yang dilakukan, skuat Garuda hanya menang sekali, imbang sekali dan dua kali kalah. Hai itu pun menempatkan Indonesia berada di posisi 4 kelasemen dan hanya lebih baik dari Timor Leste.
Hasil itupun membuat Indonesia untuk kesekian kalinya belum mampu memberikan gelar. Prestasi yang menurun jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya pada 2016 membuat indonesia harus lebih baik lagi mempersiapkan segala hal.
Tahun 2019 dimulai, tongkat kepemimpinan Garuda kembali beralih. Simon McMenemy, pelatih yang sudah malang melintang di sepakbola Asia Tenggara dan sudah beberapa tahun kebelakang menjadi pelatih top di Indonesia. Terakhir, ia memberikan prestasi terbaik untuk Bhayangkara FC menjuarai Liga 1 2017.
Di tahun ini, ada agenda penting untuk Timnas Senior. Seperti yang sudah dikatan di awal, akan ada kualifikasi Piala Dunia 2022.
Indonesia masuk dalam grup G bersama Thailand, Malaysia, Vietnam dan Uni Emirat Arab.
Adapun jadwal timnas selama kualifikasi, sebagai berikut :
5 September 2019: Indonesia VS Malaysia
10 September 2019: Indonesia VS Thailand
10 Oktober 2019: Uni Emirat Arab VS Indonesia
15 Oktober 2019: Indonesia VS Vietnam
19 November 2019: Malaysia VS Indonesia
26 Maret 2020: Thailand VS Indonesia
31 Maret 2020: Indonesia VS Uni Emirat Arab
5 September 2019: Indonesia VS Malaysia
10 September 2019: Indonesia VS Thailand
10 Oktober 2019: Uni Emirat Arab VS Indonesia
15 Oktober 2019: Indonesia VS Vietnam
19 November 2019: Malaysia VS Indonesia
26 Maret 2020: Thailand VS Indonesia
31 Maret 2020: Indonesia VS Uni Emirat Arab
4 Juni 2020: Vietnam VS Indonesia
Besok 5 September 2019, Indonesia akan memulai perjuangan menuju Piala Dunia. Sebuah mimpi besar bagi setiap negera. Berat memang, namun tidak ada yang tidak mungkin. Mari kita selalu dukung setiap langkah perjalanan Garuda demi meraih prestasi terbaik.
